Skip to main content

Pilkada Serentak, Jokowi Efek Tak di Perlukan PDI Perjuangan


Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan mengaku siap menghadapi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2015. Walau belum memastikan berapa persen target kemenangan, namun partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri ini mengaku akan mati-matian.

Ketua DPP PDI Perjuangan, Djarot Syaiful Hidayat, Sabtu 21 November 2015, menyatakan bahwa partainya tidak akan mengandalkan popularitas Joko Widodo alias efek Jokowi.

"Kita tidak berfikir Jokowi efek, tapi bagaimana kader-kader menentukan," ujar Djarot di kantor DPP PDI Perjuangan, Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Menurut Djarot, saat ini memang PDI Perjuangan menjadi partai pemerintah. Pada pemilu 2014 lalu, PDI Perjuangan sukses mengantarkan Joko Widodo menjadi Presiden RI ke-7, setelah 10 tahun sebelumnya partai berlambang banteng kekar ini menjadi oposisi.

Namun, kesuksesan itu tidak serta merta menjamin calon yang diusung PDI Perjuangan pada pilkada nanti juga akan menang.

"Sekarang PDI Perjuangan menjadi partai yang ada di pemerintah. Pertarungannya di situ, apakah rakyat bisa menerima. Termasuk juga kinerja mereka di wilayah-wilayah," kata Djarot.

Djarot, yang kini menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, bercermin pada kenyataan selama 10 tahun Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Presiden, banyak juga calon kepala daerah yang gagal meski telah mendapat dukungan Partai Demokrat.

Dia mencontohkan, saat PDI Perjuangan mengusung Jokowi pada Pemilihan Gubernur DKI 2012 lalu, para kader harus berjuang keras menggalang simpati dan dukungan warga Jakarta demi mengalahkan petahana Fauzi Bowo yang diusung Demokrat.

"Tidak simetris dari kader Demokrat bisa menang, tergantung kerja kita di lapangan. Misalnya, Demokrat 10 tahun (berkuasa) tidak lantas berpengaruh pada proses pilkada," kata Djarot.

Saat ini, ia menambahkan, tidak bisa diharapkan lagi efek Jokowi. Karena, calon yang diusung, termasuk popularitas dan latar belakang pribadinya, lebih menentukan untuk dinilai dan diterima oleh publik.

Djarot juga mengatakan, soliditas partai sangat menentukan. Tidak bisa sekedar bergantung pada Jokowi efek.

"Karena masing-masing wilayah punya karakter sendiri-sendiri, potensi sendiri-sendiri," kata mantan Walikota Blitar Jawa Timur ini.

Dan perlu diketahui, 2 provinsi besar yakni Sumatera Utara (Sumut) dan Jawab Barat (Jabar) ketika PDIP dulu andalkan Jokowi efek. Dimana Jokowi yang ketika itu Gubernur DKI Jakarta harus "turun gunung" ikut kampanye ke daerah tersebut. Namun tetap saja calon gubernur yang di usung PDIP kalah pada pemilihan gubernur (Pilgub) di Sumut dan Jabar beberapa waktu lalu. [viva/pknews]

Popular posts from this blog

Usai Keluarkan Perpres Soal Kenaikan DP Mobil Pejabat, Nah Lho..Jokowi Bingung!

"Plin Plan pakdhe nih," tulis akun @ebritino  di Twitter terkait sikap Jokowi yang sepertinya kebingungan usai keluarkan Perpres No 39/2015. Ada pun Perpres tersebut mengatur soal kenaikan uang muka (DP) kendaraan mobil pejabat dari Rp 116 juta menjadi Rp 210 juta. Sikap 'plin plan' Jokowi ini apa karena ada banyak protes dari publik atau ada faktor lain memang belum ada klarifikasi dari pihak Istana. Yang ada hanyalah Jokowi sebut akan mengecek ulang Perpres No 39/2015 tersebut. Dikutip laman Detik (5/4) , bahwa Presiden Jokowi berjanji akan mengecek Perpres yang berisi kenaikan nilai uang muka pembelian mobil pejabat negara. Selain itu dirinya juga mengakui bahwa kebijakan itu tidak tepat dilakukan saat ini. "Saat ini bukan saat yang baik. Pertama karena kondisi ekonomi, kedua sisi keadilan, ketiga sisi (penghematan) BBM," tutur Jokowi setelah mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, dari kampung halamannya di Solo, Minggu (5/4...

Tak Bela Ahok, Desy Ratnasari: Lebih Baik Sertifikat Diberi Kepada Pelacur Yang Tobat

Anggota Komisi VIII DPR Desy Ratnasari menyatakan tidak menyetujui wacana pemberian sertifikasi kepada pekerja seks komersial (PSK) yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Desy justru menyarankan gagasan tersebut seharusnya diberikan kepada PSK yang mau meninggalkan profesinya tersebut. "Sertifikasi lebih baik diberikan kepada PSK yang mau meninggalkan profesinya tersebut dan mau beralih profesi," kata politikus Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut melalui pesan singkat (SMS) kepada Republika, Selasa (28/4). Menurut dia, pemberian sertifikasi tersebut lebih baik diberikan kepada mantan kupu-kupu malam yang mau melakukan pekerjaan lainnya. Tentunya pekerjaan yang halal dan baik, tidak seperti sebelumnya menjajakan diri. Artis kenamaan Indonesia itu menilai, pemberian sertifikasi kepada mereka yang bertobat lebih bagus dibanding kepada PSK yang masih menjalani pekerjaan tersebut. Hal itu juga mungkin bisa menjadi apresiasi bagi mereka yang bertobat. Pasalnya,...

Ironi...Lapindo Di Urus Pemenrintah, ARB Malah Buang-buang Duit

Ironi sekali, ketika masyarakat Sidoarjo menanti penggantian atas tanah mereka yang tertutup lumpur Lapindo, Aburizal Bakrie alias Ical sebagai pemilik malah asyik buang duit untuk rebut kekuasaan di Golkar. "1 bulan lagi 29 Mei genap 8 tahun sudah Lumpur Lapindo mengubur beberapa kecamatan di sidoarjo Jatim. Aburizal Bakrie sang empunya malah kini sedang berasyik masyuk mengutak ngatik pemerintah dan Golkar agar dapat melanggengkan kekuasaannya sebagai ketua umum dengan berbagai cara dilakukan, puluhan bahkan ratusan milyar biaya mengalir untuk melanggengkan kekuasaannya," kata Ketua Lembaga Penyelidikan, Pemantauan dan Pemberantasan Korupsi RI (LP3KRI), Samsul Hidayat di Jakarta, Senin (27/4). Samsul menuturkan, sudah bertahun-tahun penantian masyarakat memperoleh ganti rugi yang tak kunjung selesai. Diera SBY, pemerintah berbaik hati turut mengucurkan miliaran rupiah untuk menanggulangi dampak kerugian dan sosial yang diakibatkan kecerobohan perusahaan tambang dib...