Skip to main content

Banyak Alasan, Pemerintah Jokowi Plin-plan Hukum Mati Bandar Narkoba Warga Australia


Apapun alasan pemerintahan Jokowi di balik pengunduran hukuman mati bandar narkoba Australia, publik sudah dapat menilai bahwa pemerintah selain 'tebang pilih', juga plin-plan.

Dampaknya Tweeps dan Facebooker kecewa kenapa pemerintah menunda eksekusi mati dua terpidana narkoba asal Australia, Andrew Chan (31) dan Myuran Sukumaran (33). Penundaan eksekusi ini dikhawatirkan memicu polemik baru.

Di Twitter, account @armand123 kecewa mengetahui pemerintah menunda eksekusi mati terpidana kasus narkoba asal Australia. Kata dia, penundaan tersebut akan memicu polemik baru di dalam negeri.

"Diundur malah bikin polemik. Indonesia jangan plintat-plintut begitu dong, malu ah," cuitnya.

Account @waonetea menilai, keputusan pemerintah menunda eksekusi mati terpidana asal Australia memalukan. Selain itu, kata dia, keputusan itu melecehkan pengadilan yang sudah jelas menjatuhkan vonis.

"Palu sudah diketok, putusan pengadilan sudah jelas tinggal eksekusi saja. Dooooorrr. Nggak usah terlalu banyak pertimbangan apalagi eksekusi ditunda gara-gara ada tekanan pihak Aussie," kicaunya.

Account @edlin bilang, penundaan hukuman mati mencoreng muka dan harga diri bangsa Indonesia, di mata dunia internasional.

"Malu ih, kesannya kita termakan lobby-lobby PM Abbott," katanya.

Account @rudiansyah mencibir sikap pemerintah. Dia khawatir publik menjadi ragu dengan komitmen pemerintah memerangi kejahatan narkoba.

"Tuh kan Presiden kita kok lemah nggak punya ketegasan," ujarnya.

Account @ikumbokarno khawatir sikap pemerintah kembali melunak setelah menunda eksekusi mati.

"Ntar malah nggak jadi lagi, caapee deeh. Door aja jangan ditunda-tunda, atut ya?" tweetnya.

Account @Adidolie mengingatkan, keputusan pemerintah dapat memicu kecemburuan dari negara yang warganya sudah tewas dieksekusi mati pada tahap I, bulan Januari lalu.

"Itu bukan solusi. Pendekatan hukum macam begini akan berimplikasi negatif," ingatnya.

Account @cartmen mendesak, Jaksa Agung tidak berlama-lama menunda eksekusi mati. "Pokoknya harus segera," desaknya.

Account @sonny68 bilang,hukum di Indonesia tidak boleh didikte oleh negara asing manapun, terlebih keputusan eksekusi sudah final dan memang hal itu yang paling baik bagi negeri tercinta Indonesia untuk meminimalisir peredaran narkoba.

"Memang Australia bisa membantu Indonesia mengurangi pecandu?" katanya.

Account @Andre Iguana menyarankan, kalau pemerintah ragu-ragu dan takut dengan ancaman Australia, lebih baik pemerintah mengganti hukuman mati warga Australia menjadi hukuman penjara seumur hidup.

"Syaratnya soal makan dan lain-lain ditanggung negara mereka sendiri, kalau nggak sanggup ya tembak mati saja," sarannya.

Berbeda, account @sibulegunung memandang positif keputusan pemerintah. Dikatakannya, hukuman mati bertentangan dengan prinsip-prinsi HAM.

"Saya setuju bagi pelaku kejahatan yang dijatuhkan hukuman mati untuk pertama kali sebaiknya dimaafkan dengan syarat apabila setelah dibebaskan berbuat kembali maka langsung ditembak mati di depan umum," katanya.

Account @pan_tera menilai sikap pemerintah tepat. Kata dia, banyak ruginya jika pemerintah tidak mempertimbangkan imbauan PBB dan Australia.

Dikhawatirkan banyak negara simpati dengan Australia sehingga memberi tekanan dalam dunia perdagangan dan bisnis Indonesia.

"Setuju. Jangan hanya dikarenakan dua orang yang tidak berguna itu negara kita rugi," belanya.

Account @putra meminta publik menghargai apapun keputusan pemerintah terkait eksekusi mati dua warga Australia.

"Urusan ini biarkan Kejaksaan yang urus, yang penting kita awasi, supaya tidak sampai lepas. Kita kerja saja," celotehnya.

Sementara itu, Jaksa Agung HM Prasetyo mengatakan eksekusi mati dua WN Australia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, yang terlibat jaringan Bali Nine ditunda karena untuk mematangkan kesiapan.

Prasetyo mengatakan, ada persiapan yang harus dilakukan. Jika semua sudah disiapkan, maka eksekusi duo Bali Nine itu akan segera dilakukan.

"Itu kembali mempertimbangkan kesiapan dan persiapan, ini melibatkan banyak pihak, kita harus berkoordinasi dengan kepolisian, kantor wilayah agama, tempat isolasi, rohaniawan, masalah keamanan juga. Begitu semuanya sudah oke, kita lakukan," ujarnya.

Prasetyo mengatakan, dirinya memaklumi jika ada tekanan dari Australia terkait rencana eksekusi mati itu. Meski pemerintah sendiri berharap tidak ada tekanan.

"Kita maklumi. Kalau ada warga kita mau dieksekusi juga kita pasti akan begitu, kita nggak pernah menekan orang lain, mereka juga kita harap jangan menekan kita," katanya.

Sedang Wapres Jusuf Kalla mengatakan, penundaan bukan berarti pembatalan eksekusi dua gembong narkoba tersebut. Namun, ada pertimbangan lain yang memang harus dipikirkan. JK menegaskan kalau eksekusi mati terhadap Andrew dan Myuran tetap dilaksanakan.

"Tentu kita pikirkan banyak hal. Tapi, bagian hukum tetap jalan," sebut JK.

Sepertinya pemerintahan Jokowi memang tidak siap secara konsep untuk laksanakan hukuman mati bagi bandar narkoba. Atau apa mungkin Jokowi takut sama tekanan atau ancaman Australia? Waktu yang akan menjawab. [rmol/pknews]

Popular posts from this blog

Usai Keluarkan Perpres Soal Kenaikan DP Mobil Pejabat, Nah Lho..Jokowi Bingung!

"Plin Plan pakdhe nih," tulis akun @ebritino  di Twitter terkait sikap Jokowi yang sepertinya kebingungan usai keluarkan Perpres No 39/2015. Ada pun Perpres tersebut mengatur soal kenaikan uang muka (DP) kendaraan mobil pejabat dari Rp 116 juta menjadi Rp 210 juta. Sikap 'plin plan' Jokowi ini apa karena ada banyak protes dari publik atau ada faktor lain memang belum ada klarifikasi dari pihak Istana. Yang ada hanyalah Jokowi sebut akan mengecek ulang Perpres No 39/2015 tersebut. Dikutip laman Detik (5/4) , bahwa Presiden Jokowi berjanji akan mengecek Perpres yang berisi kenaikan nilai uang muka pembelian mobil pejabat negara. Selain itu dirinya juga mengakui bahwa kebijakan itu tidak tepat dilakukan saat ini. "Saat ini bukan saat yang baik. Pertama karena kondisi ekonomi, kedua sisi keadilan, ketiga sisi (penghematan) BBM," tutur Jokowi setelah mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, dari kampung halamannya di Solo, Minggu (5/4...

Tak Bela Ahok, Desy Ratnasari: Lebih Baik Sertifikat Diberi Kepada Pelacur Yang Tobat

Anggota Komisi VIII DPR Desy Ratnasari menyatakan tidak menyetujui wacana pemberian sertifikasi kepada pekerja seks komersial (PSK) yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Desy justru menyarankan gagasan tersebut seharusnya diberikan kepada PSK yang mau meninggalkan profesinya tersebut. "Sertifikasi lebih baik diberikan kepada PSK yang mau meninggalkan profesinya tersebut dan mau beralih profesi," kata politikus Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut melalui pesan singkat (SMS) kepada Republika, Selasa (28/4). Menurut dia, pemberian sertifikasi tersebut lebih baik diberikan kepada mantan kupu-kupu malam yang mau melakukan pekerjaan lainnya. Tentunya pekerjaan yang halal dan baik, tidak seperti sebelumnya menjajakan diri. Artis kenamaan Indonesia itu menilai, pemberian sertifikasi kepada mereka yang bertobat lebih bagus dibanding kepada PSK yang masih menjalani pekerjaan tersebut. Hal itu juga mungkin bisa menjadi apresiasi bagi mereka yang bertobat. Pasalnya,...

Ironi...Lapindo Di Urus Pemenrintah, ARB Malah Buang-buang Duit

Ironi sekali, ketika masyarakat Sidoarjo menanti penggantian atas tanah mereka yang tertutup lumpur Lapindo, Aburizal Bakrie alias Ical sebagai pemilik malah asyik buang duit untuk rebut kekuasaan di Golkar. "1 bulan lagi 29 Mei genap 8 tahun sudah Lumpur Lapindo mengubur beberapa kecamatan di sidoarjo Jatim. Aburizal Bakrie sang empunya malah kini sedang berasyik masyuk mengutak ngatik pemerintah dan Golkar agar dapat melanggengkan kekuasaannya sebagai ketua umum dengan berbagai cara dilakukan, puluhan bahkan ratusan milyar biaya mengalir untuk melanggengkan kekuasaannya," kata Ketua Lembaga Penyelidikan, Pemantauan dan Pemberantasan Korupsi RI (LP3KRI), Samsul Hidayat di Jakarta, Senin (27/4). Samsul menuturkan, sudah bertahun-tahun penantian masyarakat memperoleh ganti rugi yang tak kunjung selesai. Diera SBY, pemerintah berbaik hati turut mengucurkan miliaran rupiah untuk menanggulangi dampak kerugian dan sosial yang diakibatkan kecerobohan perusahaan tambang dib...