Skip to main content

Usai Situs Islam Dibungkam, Polisi Akan Pantau Semua Kegiatan Dakwah Islam



Ummat Islam di Indonesia memang sedang di uji eksistensinya oleh pemerintah yang seharusnya melindungi dan mengayomi serta memberi kebebasan kepada semua agama tuk menjalankan ibadahnya.

Situs-situs Islam yang di blokir oleh pemerintah melalui BNPT dan Menkominfo dengan alasan yang tak jelas serta sarat muatan politis daripada yuridis. Dan hal tersebut adalah salah satu upaya pembungkaman suara dan aspirasi ummat Islam. Meski akhirnya situs Islam yang di blokir dapat dibuka kembali, tap tidak kepada semua situs yang diblokir di berlakukan.

Menurut laporan ROL (9/4) cuma 12 situs yang bisa di buka kembali, yakni hidayatullah.com, salam-online.com, aqlislamiccenter.com, kiblat.net, gemaislam.com, panjimas.com, muslimdaily.net, voa-islam.com, dakwatuna.com, annajah.com, eramuslim.com dan arrahmah.com, sedang situs yang lain, masih dalam proses.

Perlu diingat, meski blokir sudah di buka, namun proses pengawasan dari pemerintah masih terus di lakukan. Artinya, situs tersebut masih dicurigai oleh pemerintah sebagai situs yang mengabarkan informasi radikal.

Dan yang membuat aneh adalah, meski banyak desakan kepada BNPT dan Menkominfo tuk meminta maaf, namun hal tersebut tidak dilakukan sampai informasi ini di turunkan.

Berselang beberapa hari saja, ummat Islam di kagetkan dengan sebuah judul berita di laman Kompas (14/4) "Antisipasi ISIS, Polisi Pantau Semua Kegiatan Dakwah" yang tersebar di laman media sosial dan berikut isi beritanya.

Polda Bali menggelar dialog untuk memahami bersama kelompok radikal dan terorisme harus dapat dicegah di Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya. Tema yang diangkat adalah Sinergitas Polda Bali dan Peran Serta Masyarakat dalam Mencegah Paham Radikal dan Terorisme.

"Untuk antisipasinya agar pemahaman ini tidak berkembang di Bali yaitu dibutuhkan kewaspadaan bersama. Kewaspadaan bersama baik dari aparat, masyarakat dan serta instansi terkait. Kita harus juga harus mengikuti perkembangan terkait kelompok radikal seperti yang saat ini banyak diperbincangkan seperti kelompok ISIS, " Kata Kabid Humas Polda Bali Konbes Pol Hery Wiranto saat berdialog, Denpasar, Bali, Selasa (14/4/2015).

Dalam dialog ini Hery juga melakuakan pengawasan terhadap acara-acara dakwah yang dilakukan di Bali baik yang dilakukan ulama di Bali, dari daerah lain maupun pendakwah dari luar negri.

Pantauan terus dilakukan dengan mengetahui siapa pendakwahnya, dari kelompok mana dan isi dakwah tersebut. Ini juga untuk antisipasi jangan sampai dananya menyebarkan pemahaman radikal yang akan memecah belah masyarakat di Bali yang nota bene mayoritas agama Hindu dan dihuni multi agama dan kepercayaan.

"Kami juga sudah melakukan pemantauan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan dakwah. Kami pantau terus sampai soal materi yang ingin disampaikan agar dapat diantisipasi dan memberikan suasana kondusif, " tambahnya, demikian Kompas mengabarkan.

Lantas, para netizen pun merasa aneh dengan berita diatas dan dari sebagiannya berikan komentar.

Akun @FadliPhase menulis, "REVOLUSI MENTAL. Dr bebas berpendapat, menjadi berpendapat HARUS sesuai koridor Negara. #KOMUNISME," tegasnya dengan kesal.

Lalu, akun @iwan_ideas dengan menulis sembari menyentil kinerja intelijen, "Ngintelin masjid itu jadi kenyataan...," komentarnya sembari mereplay pesan gambar terkait.

Sedang, @MustofaNahra menulis komentarnya, "MAKIN nyata Misi Pemerintahan Jokowi ini Bro !," sekaligus melampirkan gambar seperti dibawah ini.



Dengan dalih ISIS pemerintah sepertinya ingin membungkam dan mematikan gerakan Islam di Indonesia. (Baca, Beredar Formulir KTP tanpa Kolom Agama)

Padahal jika mau objektif, ancaman teroris bukan saja dari ISIS saja. Di Aceh ada Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan di Papua juga ada gerakan separatis. Selain itu, gerakan Komunis yang sudah jelas dilarang oleh negara, malah bisa bebas melakukan aktivitas dan situs-situsnya tidak di blokir. Inikah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia? [sal]

Popular posts from this blog

Usai Keluarkan Perpres Soal Kenaikan DP Mobil Pejabat, Nah Lho..Jokowi Bingung!

"Plin Plan pakdhe nih," tulis akun @ebritino  di Twitter terkait sikap Jokowi yang sepertinya kebingungan usai keluarkan Perpres No 39/2015. Ada pun Perpres tersebut mengatur soal kenaikan uang muka (DP) kendaraan mobil pejabat dari Rp 116 juta menjadi Rp 210 juta. Sikap 'plin plan' Jokowi ini apa karena ada banyak protes dari publik atau ada faktor lain memang belum ada klarifikasi dari pihak Istana. Yang ada hanyalah Jokowi sebut akan mengecek ulang Perpres No 39/2015 tersebut. Dikutip laman Detik (5/4) , bahwa Presiden Jokowi berjanji akan mengecek Perpres yang berisi kenaikan nilai uang muka pembelian mobil pejabat negara. Selain itu dirinya juga mengakui bahwa kebijakan itu tidak tepat dilakukan saat ini. "Saat ini bukan saat yang baik. Pertama karena kondisi ekonomi, kedua sisi keadilan, ketiga sisi (penghematan) BBM," tutur Jokowi setelah mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, dari kampung halamannya di Solo, Minggu (5/4...

Ironi...Lapindo Di Urus Pemenrintah, ARB Malah Buang-buang Duit

Ironi sekali, ketika masyarakat Sidoarjo menanti penggantian atas tanah mereka yang tertutup lumpur Lapindo, Aburizal Bakrie alias Ical sebagai pemilik malah asyik buang duit untuk rebut kekuasaan di Golkar. "1 bulan lagi 29 Mei genap 8 tahun sudah Lumpur Lapindo mengubur beberapa kecamatan di sidoarjo Jatim. Aburizal Bakrie sang empunya malah kini sedang berasyik masyuk mengutak ngatik pemerintah dan Golkar agar dapat melanggengkan kekuasaannya sebagai ketua umum dengan berbagai cara dilakukan, puluhan bahkan ratusan milyar biaya mengalir untuk melanggengkan kekuasaannya," kata Ketua Lembaga Penyelidikan, Pemantauan dan Pemberantasan Korupsi RI (LP3KRI), Samsul Hidayat di Jakarta, Senin (27/4). Samsul menuturkan, sudah bertahun-tahun penantian masyarakat memperoleh ganti rugi yang tak kunjung selesai. Diera SBY, pemerintah berbaik hati turut mengucurkan miliaran rupiah untuk menanggulangi dampak kerugian dan sosial yang diakibatkan kecerobohan perusahaan tambang dib...

Tak Bela Ahok, Desy Ratnasari: Lebih Baik Sertifikat Diberi Kepada Pelacur Yang Tobat

Anggota Komisi VIII DPR Desy Ratnasari menyatakan tidak menyetujui wacana pemberian sertifikasi kepada pekerja seks komersial (PSK) yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Desy justru menyarankan gagasan tersebut seharusnya diberikan kepada PSK yang mau meninggalkan profesinya tersebut. "Sertifikasi lebih baik diberikan kepada PSK yang mau meninggalkan profesinya tersebut dan mau beralih profesi," kata politikus Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut melalui pesan singkat (SMS) kepada Republika, Selasa (28/4). Menurut dia, pemberian sertifikasi tersebut lebih baik diberikan kepada mantan kupu-kupu malam yang mau melakukan pekerjaan lainnya. Tentunya pekerjaan yang halal dan baik, tidak seperti sebelumnya menjajakan diri. Artis kenamaan Indonesia itu menilai, pemberian sertifikasi kepada mereka yang bertobat lebih bagus dibanding kepada PSK yang masih menjalani pekerjaan tersebut. Hal itu juga mungkin bisa menjadi apresiasi bagi mereka yang bertobat. Pasalnya,...