Skip to main content

PDIP Tolak Usulan Rapat Pleno Bahas Kasus Sedot Data KPU, Netizen Curiga



Usulan mengenai diadakannya Rapat Pleno soal sedot data KPU yang dilakukan Luhut Panjaitan masih terjadi pro-kontra. Salah satu yang menolak usulan rapat tersebut adalah Wakil Ketua Komisi III DPR, Trimedya Panjaitan.

Trimedya mengaku ogah ikut campur wacana adanya rapat pleno internal Komisi III yang diusulkan Desmond J. Mahesa tersebut. Ia tidak mau ikut meskipun rapat tersebut untuk meminta klarifikasi Akbar Faisal soal sedot data KPU yang disebut-sebut dilakukan Luhut yang merupakan tim sukses Jokowi-JK pada Pilpres 2014.

Menurutnya masalah sedot data ini bukanlah masalah besar yang harus diperbincangkan dalam internal Komisi III. Maka dari itu ia sangat optimis kalau rapat yang diusulkan oleh Desmond tidak akan mendapat dukungan.

“Kita (PDIP) mah tidak urusin masalah begituan. Kita ngurusin masalah besar-besar aja,” kata Trimedya kepada TeropongSenayan di gedung Nusantara II DPR, Jakarta, Rabu (15/4/2015), dilansir Piyungan.

Sikap PDIP membuat para netizen curiga. Ragam komentar pun mengalir deras di media sosial Twitter. Apalagi PDIP sebut masalah sedot data KPU bukanlah masalah yang besar. Tentu saja, pernyataan tersebut semakin mengundang reaksi netizen untuk semakin curiga, dan ini sah-sah saja dalam alam demokrasi.

Adapun dari hasil pantauan Pekanews (16/4), terkait netizen yang berikan komentar sebagai berikut.

Akun @KejujuranBangsa menulis dengan singkat, "Takut  ya?," kicaunya di laman Twitter sekaligus melampirkan link berita terkait.

Lain dengan akun @CeceMr yang menulis kicauan terkesan bertanya.

"Kok Takut gituh...?," tulisnya singkat dan padat.

Sementara itu, ada juga netizen yang berharap PDIP untuk tenang terkait usulan pleno sedot suara KPU.

"Tenang Gan, kan yg ngelakuin bukan situ...," tulis akun @abazberkicau.

Dan yang membuat semakin seru adalah, netizen yang berikan penegasan dengan menulis.

"Klo ga berbuat knp harus nolak dan takut..," tulis akun @AlieRobin yang mengingatkan akan sebuah kejujuran.

Ya, PDIP tentu punya hak politik untuk menolak usulan rapat pleno bahas kasus "Sedot Data KPU" di DPR. Namun, publik juga punya hak menilai atas sikap PDIP tersebut. Lantaran, isu tersebut datang dari "Tim Sukses" Jokowi-Jusuf Kalla sendiri, yakni Akbar Faisal yang berseteru dengan Luhut Pandjaitan.

Dan semua hanya akan tetap jadi sebatas isu saja, makanya DPR perlu adakah pleno bahas isu tersebut, supaya publik tidak terbawa pada wacana dan curiga. [sal]

Popular posts from this blog

Usai Keluarkan Perpres Soal Kenaikan DP Mobil Pejabat, Nah Lho..Jokowi Bingung!

"Plin Plan pakdhe nih," tulis akun @ebritino  di Twitter terkait sikap Jokowi yang sepertinya kebingungan usai keluarkan Perpres No 39/2015. Ada pun Perpres tersebut mengatur soal kenaikan uang muka (DP) kendaraan mobil pejabat dari Rp 116 juta menjadi Rp 210 juta. Sikap 'plin plan' Jokowi ini apa karena ada banyak protes dari publik atau ada faktor lain memang belum ada klarifikasi dari pihak Istana. Yang ada hanyalah Jokowi sebut akan mengecek ulang Perpres No 39/2015 tersebut. Dikutip laman Detik (5/4) , bahwa Presiden Jokowi berjanji akan mengecek Perpres yang berisi kenaikan nilai uang muka pembelian mobil pejabat negara. Selain itu dirinya juga mengakui bahwa kebijakan itu tidak tepat dilakukan saat ini. "Saat ini bukan saat yang baik. Pertama karena kondisi ekonomi, kedua sisi keadilan, ketiga sisi (penghematan) BBM," tutur Jokowi setelah mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, dari kampung halamannya di Solo, Minggu (5/4...

Ironi...Lapindo Di Urus Pemenrintah, ARB Malah Buang-buang Duit

Ironi sekali, ketika masyarakat Sidoarjo menanti penggantian atas tanah mereka yang tertutup lumpur Lapindo, Aburizal Bakrie alias Ical sebagai pemilik malah asyik buang duit untuk rebut kekuasaan di Golkar. "1 bulan lagi 29 Mei genap 8 tahun sudah Lumpur Lapindo mengubur beberapa kecamatan di sidoarjo Jatim. Aburizal Bakrie sang empunya malah kini sedang berasyik masyuk mengutak ngatik pemerintah dan Golkar agar dapat melanggengkan kekuasaannya sebagai ketua umum dengan berbagai cara dilakukan, puluhan bahkan ratusan milyar biaya mengalir untuk melanggengkan kekuasaannya," kata Ketua Lembaga Penyelidikan, Pemantauan dan Pemberantasan Korupsi RI (LP3KRI), Samsul Hidayat di Jakarta, Senin (27/4). Samsul menuturkan, sudah bertahun-tahun penantian masyarakat memperoleh ganti rugi yang tak kunjung selesai. Diera SBY, pemerintah berbaik hati turut mengucurkan miliaran rupiah untuk menanggulangi dampak kerugian dan sosial yang diakibatkan kecerobohan perusahaan tambang dib...

Tak Bela Ahok, Desy Ratnasari: Lebih Baik Sertifikat Diberi Kepada Pelacur Yang Tobat

Anggota Komisi VIII DPR Desy Ratnasari menyatakan tidak menyetujui wacana pemberian sertifikasi kepada pekerja seks komersial (PSK) yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Desy justru menyarankan gagasan tersebut seharusnya diberikan kepada PSK yang mau meninggalkan profesinya tersebut. "Sertifikasi lebih baik diberikan kepada PSK yang mau meninggalkan profesinya tersebut dan mau beralih profesi," kata politikus Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut melalui pesan singkat (SMS) kepada Republika, Selasa (28/4). Menurut dia, pemberian sertifikasi tersebut lebih baik diberikan kepada mantan kupu-kupu malam yang mau melakukan pekerjaan lainnya. Tentunya pekerjaan yang halal dan baik, tidak seperti sebelumnya menjajakan diri. Artis kenamaan Indonesia itu menilai, pemberian sertifikasi kepada mereka yang bertobat lebih bagus dibanding kepada PSK yang masih menjalani pekerjaan tersebut. Hal itu juga mungkin bisa menjadi apresiasi bagi mereka yang bertobat. Pasalnya,...