Skip to main content

Jokowi Dijadikan Warga Kehormatan TNI, "Penghormatan Atau Pelecehan?"


Pada hakekatnya, seorang Presiden Jokowi adalah Panglima Tertinggi TNI (AU, AL, AD) yang otomatis adalah warga TNI yang sudah terhormat. Jadi ngapain lagi Jokowi di berikan baret sebagai simbol untuk menjadi warga kehormatan TNI?

Itulah yang menarik untuk sama-sama dipelajari oleh bangsa Indonesia sesuai dengan logika konstitusi dan hukum yang berlaku. Karena, amat disayangkan jika sebuah pertunjukan yang menghabiskan uang negara (baca: rakyat) adalah suatu pertunjukkan yang jauh dari sifat mendidik, bahkan melanggar konstitusi. Semua rakyat Indonesia tak menginginkan itu terjadi. Dan jika terjadi, sebagai warga yang baik, tentu harus mengkritisi.

Nah, kembali lagi, sebenarnya yang dilakukan TNI pada tanggal 16 April 2016, sebuah penghargaan atau pelecehan kepada Presiden Jokowi? Sebelum ditemukan jawabannya, ada baiknya baca informasi dibawah ini yang dilansir JPPN (16/4).

Penghargaan berupa pemberian baret kepada Presiden Joko Widodo dinilai kurang tepat. Simbolisasi pengangkatan Jokowi menjadi warga kehormatan TNI ini dianggap tak perlu mengingat presiden sesungguhnya telah resmi menjadi "warga TNI" ketika diangkat sumpah sebagai kepala negara.

Pandangan tersebut dikemukakan Direktur Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahudin, sebab pada Pasal 10 UUD 1945 tegas menyatakan, presiden memegang kekuasaan tertinggi atas Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara.

Artinya, ketika menjadi panglima tertinggi, maka sudah tentu presiden termasuk bagian dari warga TNI. “Jadi dengan atau tanpa baret di kepala, kedudukan presiden sebagai panglima tertinggi sekaligus warga TNI, tidak akan berkurang sedikitpun, meskipun presiden berlatarbelakang sipil,” ujarnya, Kamis (16/4).

Menurut Said, kekuasaan presiden atas institusi angkatan perang merupakan konsekuensi dari kedudukan presiden sebagai kepala negara yang memegang kekuasaan pemerintahan negara. Karena itu dalam konstruksi ketatanegaraan Indonesia, seorang Panglima TNI sebagai pemimpin angkatan perang sekalipun tidak bisa memutuskan perang, kecuali berdasarkan perintah presiden atas persetujuan DPR.

“Jadi kalau pembaretan dan pengangkatan sebagai warga kehormatan TNI dilakukan kepada orang atau pejabat yang kedudukannya setingkat atau levelnya lebih rendah seperti yang belum lama ini dilakukan kepada para gubernur, saya kira itu masih wajar. Tapi kalau presiden itu kan kedudukannya lebih tinggi dari Panglima TNI,” ujarnya.

Sesuai konstitusi kata Said, seharusnya presiden lah yang memberikan gelar, tanda jasa, termasuk tanda kehormatan kepada prajuri TNI, bukan sebaliknya.

“Jadi saya pikir pembaretan ini kurang tepat dan konstitusionalitasnya perlu dikaji ulang oleh Mabes TNI,” ujar Said, demikian JPPN mengabarkan.

Kembali kepada judul: Jokowi Dijadikan Warga Kehormatan TNI, "Penghormatan Atau Pelecehan?" Mari sama-sama dan masing-masing menilainya. [sal]

Popular posts from this blog

Usai Keluarkan Perpres Soal Kenaikan DP Mobil Pejabat, Nah Lho..Jokowi Bingung!

"Plin Plan pakdhe nih," tulis akun @ebritino  di Twitter terkait sikap Jokowi yang sepertinya kebingungan usai keluarkan Perpres No 39/2015. Ada pun Perpres tersebut mengatur soal kenaikan uang muka (DP) kendaraan mobil pejabat dari Rp 116 juta menjadi Rp 210 juta. Sikap 'plin plan' Jokowi ini apa karena ada banyak protes dari publik atau ada faktor lain memang belum ada klarifikasi dari pihak Istana. Yang ada hanyalah Jokowi sebut akan mengecek ulang Perpres No 39/2015 tersebut. Dikutip laman Detik (5/4) , bahwa Presiden Jokowi berjanji akan mengecek Perpres yang berisi kenaikan nilai uang muka pembelian mobil pejabat negara. Selain itu dirinya juga mengakui bahwa kebijakan itu tidak tepat dilakukan saat ini. "Saat ini bukan saat yang baik. Pertama karena kondisi ekonomi, kedua sisi keadilan, ketiga sisi (penghematan) BBM," tutur Jokowi setelah mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, dari kampung halamannya di Solo, Minggu (5/4...

Ironi...Lapindo Di Urus Pemenrintah, ARB Malah Buang-buang Duit

Ironi sekali, ketika masyarakat Sidoarjo menanti penggantian atas tanah mereka yang tertutup lumpur Lapindo, Aburizal Bakrie alias Ical sebagai pemilik malah asyik buang duit untuk rebut kekuasaan di Golkar. "1 bulan lagi 29 Mei genap 8 tahun sudah Lumpur Lapindo mengubur beberapa kecamatan di sidoarjo Jatim. Aburizal Bakrie sang empunya malah kini sedang berasyik masyuk mengutak ngatik pemerintah dan Golkar agar dapat melanggengkan kekuasaannya sebagai ketua umum dengan berbagai cara dilakukan, puluhan bahkan ratusan milyar biaya mengalir untuk melanggengkan kekuasaannya," kata Ketua Lembaga Penyelidikan, Pemantauan dan Pemberantasan Korupsi RI (LP3KRI), Samsul Hidayat di Jakarta, Senin (27/4). Samsul menuturkan, sudah bertahun-tahun penantian masyarakat memperoleh ganti rugi yang tak kunjung selesai. Diera SBY, pemerintah berbaik hati turut mengucurkan miliaran rupiah untuk menanggulangi dampak kerugian dan sosial yang diakibatkan kecerobohan perusahaan tambang dib...

Tak Bela Ahok, Desy Ratnasari: Lebih Baik Sertifikat Diberi Kepada Pelacur Yang Tobat

Anggota Komisi VIII DPR Desy Ratnasari menyatakan tidak menyetujui wacana pemberian sertifikasi kepada pekerja seks komersial (PSK) yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Desy justru menyarankan gagasan tersebut seharusnya diberikan kepada PSK yang mau meninggalkan profesinya tersebut. "Sertifikasi lebih baik diberikan kepada PSK yang mau meninggalkan profesinya tersebut dan mau beralih profesi," kata politikus Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut melalui pesan singkat (SMS) kepada Republika, Selasa (28/4). Menurut dia, pemberian sertifikasi tersebut lebih baik diberikan kepada mantan kupu-kupu malam yang mau melakukan pekerjaan lainnya. Tentunya pekerjaan yang halal dan baik, tidak seperti sebelumnya menjajakan diri. Artis kenamaan Indonesia itu menilai, pemberian sertifikasi kepada mereka yang bertobat lebih bagus dibanding kepada PSK yang masih menjalani pekerjaan tersebut. Hal itu juga mungkin bisa menjadi apresiasi bagi mereka yang bertobat. Pasalnya,...