Skip to main content

Duh! Ridwan Kamil Di Sangka Presiden Indonesia oleh Turis Jerman, Bukan Jokowi



Presiden Jokowi didampingi Mensesneg Pratikno, Kepala Staf Kepresidenan Luhut Binsar Panjaitan, dan Menpar Arief Yahya melakukan kunjungan kerja ke Bandung pada Kamis (16/4). Mereka disambut Wali Kota Bandung Ridwan Kamil ketika melakukan inspeksi kesiapan peringatan Konferensi Asia Afrika ke-60 pada pekan depan. Foto mereka pun diabadikan masyarakat dan awak media.

Ketika para pejabat tersebut berjalan beriringan, ada seorang warga Kota Kembang tersebut yang menceritakan pengalaman uniknya. Adalah Achmad Iman yang mengunggah kisah lucu tersebut melalui akun Path miliknya.

Menurut dia, salah seorang turis asal Jerman yang melihat inspeksi pejabat itu salah mengira sosok presiden RI. Turis asing itu menebak bahwa presiden RI adalah Ridwan Kamil, bukan Jokowi. Saat itu, Emil--panggilan akrabnya--memakai kacamata dan kopiah yang identik dikenakan Sukarno maupun Soeharto. Memang, ketika berjalan, posisi Emil dan Jokowi berada di depan bersama Pratikno.

"Kata turis Jerman di Bandung: Your president is very handsome, cool and looks clever, wearing black tradition hat (kopeah) and eye glases...he look young...how old is he?...Aing teus bisa jawab. ngadon," begitu Achmad Iman menulis pengalamannya.

Hingga kini, foto capture status Path tersebut menyebar dan ramai dibincangkan di media sosial, demikian Rol (17/4) mengabarkan.



Sebelumnya (16/4) netizen ada yang komentar terkait kabar tersebut, "Kalo kayak gini boleh gak sih disebar?," tulis akun @hafidz_ary di Twitter sambil melampirkan gambar terkait. Rupanya pada hari ini sudah menjadi berita. [sal]

Popular posts from this blog

Usai Keluarkan Perpres Soal Kenaikan DP Mobil Pejabat, Nah Lho..Jokowi Bingung!

"Plin Plan pakdhe nih," tulis akun @ebritino  di Twitter terkait sikap Jokowi yang sepertinya kebingungan usai keluarkan Perpres No 39/2015. Ada pun Perpres tersebut mengatur soal kenaikan uang muka (DP) kendaraan mobil pejabat dari Rp 116 juta menjadi Rp 210 juta. Sikap 'plin plan' Jokowi ini apa karena ada banyak protes dari publik atau ada faktor lain memang belum ada klarifikasi dari pihak Istana. Yang ada hanyalah Jokowi sebut akan mengecek ulang Perpres No 39/2015 tersebut. Dikutip laman Detik (5/4) , bahwa Presiden Jokowi berjanji akan mengecek Perpres yang berisi kenaikan nilai uang muka pembelian mobil pejabat negara. Selain itu dirinya juga mengakui bahwa kebijakan itu tidak tepat dilakukan saat ini. "Saat ini bukan saat yang baik. Pertama karena kondisi ekonomi, kedua sisi keadilan, ketiga sisi (penghematan) BBM," tutur Jokowi setelah mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, dari kampung halamannya di Solo, Minggu (5/4...

Ironi...Lapindo Di Urus Pemenrintah, ARB Malah Buang-buang Duit

Ironi sekali, ketika masyarakat Sidoarjo menanti penggantian atas tanah mereka yang tertutup lumpur Lapindo, Aburizal Bakrie alias Ical sebagai pemilik malah asyik buang duit untuk rebut kekuasaan di Golkar. "1 bulan lagi 29 Mei genap 8 tahun sudah Lumpur Lapindo mengubur beberapa kecamatan di sidoarjo Jatim. Aburizal Bakrie sang empunya malah kini sedang berasyik masyuk mengutak ngatik pemerintah dan Golkar agar dapat melanggengkan kekuasaannya sebagai ketua umum dengan berbagai cara dilakukan, puluhan bahkan ratusan milyar biaya mengalir untuk melanggengkan kekuasaannya," kata Ketua Lembaga Penyelidikan, Pemantauan dan Pemberantasan Korupsi RI (LP3KRI), Samsul Hidayat di Jakarta, Senin (27/4). Samsul menuturkan, sudah bertahun-tahun penantian masyarakat memperoleh ganti rugi yang tak kunjung selesai. Diera SBY, pemerintah berbaik hati turut mengucurkan miliaran rupiah untuk menanggulangi dampak kerugian dan sosial yang diakibatkan kecerobohan perusahaan tambang dib...

Tak Bela Ahok, Desy Ratnasari: Lebih Baik Sertifikat Diberi Kepada Pelacur Yang Tobat

Anggota Komisi VIII DPR Desy Ratnasari menyatakan tidak menyetujui wacana pemberian sertifikasi kepada pekerja seks komersial (PSK) yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Desy justru menyarankan gagasan tersebut seharusnya diberikan kepada PSK yang mau meninggalkan profesinya tersebut. "Sertifikasi lebih baik diberikan kepada PSK yang mau meninggalkan profesinya tersebut dan mau beralih profesi," kata politikus Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut melalui pesan singkat (SMS) kepada Republika, Selasa (28/4). Menurut dia, pemberian sertifikasi tersebut lebih baik diberikan kepada mantan kupu-kupu malam yang mau melakukan pekerjaan lainnya. Tentunya pekerjaan yang halal dan baik, tidak seperti sebelumnya menjajakan diri. Artis kenamaan Indonesia itu menilai, pemberian sertifikasi kepada mereka yang bertobat lebih bagus dibanding kepada PSK yang masih menjalani pekerjaan tersebut. Hal itu juga mungkin bisa menjadi apresiasi bagi mereka yang bertobat. Pasalnya,...