Skip to main content

Tak Tahan Godaan Jokowi, PPP Kubu Djan Faridz Juga Nyatakan Keluar dari KMP

Menjadi oposisi sejatinya tidaklah mudah. PDIP selama 10 tahun menjadi oposisi. Begitu juga PKS yang pernah menjadi oposisi walau sendiri ketika Megawati presiden. Nah, PKS dan PDIP sudah di uji oleh sejarah bisa jadi oposisi. Walau dalam prakteknya, PKS dan PDIP punya perbedaan yang signifikan memerankan oposisi.

Kini, tampaknya PPP Kubu Djan Faridz yang sejak awal berada bersama Koalisi Merah Putih (KMP) jadi oposisi malah dikabarkan merubah sikap politiknya. Keluar dari KMP dan berlabuh ke pemerintahan Jokowi seperti pilihan yang di ambil. Apa karena PPP tak tahan dengan banyaknya godaan? Pastinya. Karena menjadi oposisi memang tidaklah mudah. Dan, pemerintahan Jokowi sudah melakukan tawaran - tawaran politik kepada kubu KMP. Sampai saat ini, PKS dan Gerindra yang masih setia berada di luar pemerintahan. Sedang Golkar masih goyah yang tak tahu kapan akan selesai.

Kembali kepada sikap PPP Kubu Djan Faridz, seperti dikabarkan Rol (15/3), bahwa barisan kelompok partai politik penekan pemerintah, Koalisi Merah Putih (KMP) terancam bubar. Satu per satu partai penyokongnya memilih hengkang dan beralih sikap mendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wapres Jusuf Kalla (JK).

Setelah Golkar, kali ini Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menyampaikan sikap keluar dari KMP. Ketua PPP Mukhtamar Jakarta, Djan Faridz mengatakan, KMP adalah nostalgia. Sekarang ini, kata dia, partainya jadi bagian dari kelompok partai pendukung pemerintahan.

"KMP itu kan adanya saat pilpres lalu. Sekarang sudah nggak ada lagi," kata dia, saat dihubungi Republika, Ahad (15/3).

Menurutnya, keputusan ini selaras dengan konsep politik hasil Muktamar Jakarta pimpinannya. Pun, dikatakan mantan menteri perumahan rakyat itu, dirinya tak rela menjadi apa yang diistilahkan sendiri sebagai pengkhianatan politik.

Djan mengungkapkan, sejak Jokowi usung diri dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta, 2012 lalu, dirinya berada di gerombolan politikus pendukung utama. Sikap tersebut, ditegaskan Djan, tak punah sampai hari ini.

Djan juga menerangkan, keterikatan politik PPP dengan KMP adalah produk pikir mantan Ketua Umum PPP, Suryadharma Ali. Menurut dia, itupun bukan sikap partai, melainkan pandangan pribadi.

"Kalau yang namanya oposisi itu semua yang dilakukan pemerintah itu salah. Tapi partai-partai KMP kan nggak," ujar Djan. Dia mencontohkan cukup banyak kebijakan Presiden Jokowi yang justru mendapat sokongan politik dari koalisi di KMP.

"Lihat kasus BG (Komjen Budi Gunawan). APBN Perubahan (2015), justru KMP yang paling mendukung," kata dia, demikian dilaporkan Rol.

Popular posts from this blog

Usai Keluarkan Perpres Soal Kenaikan DP Mobil Pejabat, Nah Lho..Jokowi Bingung!

"Plin Plan pakdhe nih," tulis akun @ebritino  di Twitter terkait sikap Jokowi yang sepertinya kebingungan usai keluarkan Perpres No 39/2015. Ada pun Perpres tersebut mengatur soal kenaikan uang muka (DP) kendaraan mobil pejabat dari Rp 116 juta menjadi Rp 210 juta. Sikap 'plin plan' Jokowi ini apa karena ada banyak protes dari publik atau ada faktor lain memang belum ada klarifikasi dari pihak Istana. Yang ada hanyalah Jokowi sebut akan mengecek ulang Perpres No 39/2015 tersebut. Dikutip laman Detik (5/4) , bahwa Presiden Jokowi berjanji akan mengecek Perpres yang berisi kenaikan nilai uang muka pembelian mobil pejabat negara. Selain itu dirinya juga mengakui bahwa kebijakan itu tidak tepat dilakukan saat ini. "Saat ini bukan saat yang baik. Pertama karena kondisi ekonomi, kedua sisi keadilan, ketiga sisi (penghematan) BBM," tutur Jokowi setelah mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, dari kampung halamannya di Solo, Minggu (5/4...

Ironi...Lapindo Di Urus Pemenrintah, ARB Malah Buang-buang Duit

Ironi sekali, ketika masyarakat Sidoarjo menanti penggantian atas tanah mereka yang tertutup lumpur Lapindo, Aburizal Bakrie alias Ical sebagai pemilik malah asyik buang duit untuk rebut kekuasaan di Golkar. "1 bulan lagi 29 Mei genap 8 tahun sudah Lumpur Lapindo mengubur beberapa kecamatan di sidoarjo Jatim. Aburizal Bakrie sang empunya malah kini sedang berasyik masyuk mengutak ngatik pemerintah dan Golkar agar dapat melanggengkan kekuasaannya sebagai ketua umum dengan berbagai cara dilakukan, puluhan bahkan ratusan milyar biaya mengalir untuk melanggengkan kekuasaannya," kata Ketua Lembaga Penyelidikan, Pemantauan dan Pemberantasan Korupsi RI (LP3KRI), Samsul Hidayat di Jakarta, Senin (27/4). Samsul menuturkan, sudah bertahun-tahun penantian masyarakat memperoleh ganti rugi yang tak kunjung selesai. Diera SBY, pemerintah berbaik hati turut mengucurkan miliaran rupiah untuk menanggulangi dampak kerugian dan sosial yang diakibatkan kecerobohan perusahaan tambang dib...

Tak Bela Ahok, Desy Ratnasari: Lebih Baik Sertifikat Diberi Kepada Pelacur Yang Tobat

Anggota Komisi VIII DPR Desy Ratnasari menyatakan tidak menyetujui wacana pemberian sertifikasi kepada pekerja seks komersial (PSK) yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Desy justru menyarankan gagasan tersebut seharusnya diberikan kepada PSK yang mau meninggalkan profesinya tersebut. "Sertifikasi lebih baik diberikan kepada PSK yang mau meninggalkan profesinya tersebut dan mau beralih profesi," kata politikus Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut melalui pesan singkat (SMS) kepada Republika, Selasa (28/4). Menurut dia, pemberian sertifikasi tersebut lebih baik diberikan kepada mantan kupu-kupu malam yang mau melakukan pekerjaan lainnya. Tentunya pekerjaan yang halal dan baik, tidak seperti sebelumnya menjajakan diri. Artis kenamaan Indonesia itu menilai, pemberian sertifikasi kepada mereka yang bertobat lebih bagus dibanding kepada PSK yang masih menjalani pekerjaan tersebut. Hal itu juga mungkin bisa menjadi apresiasi bagi mereka yang bertobat. Pasalnya,...