Skip to main content

Penundaan Pelantikan Kapolri Jadi Bom Waktu Buat Jokowi


Mayoritas publik merasa khawatir akan munculnya matahari kembar di institusi Polri. Matahari kembar yang dimaksud adalah pertama, adalah Plt Kapolri yang dijabat oleh Komjen Badrodin Haiti. Matahari kedua adalah Komjen Budi Gunawan yang sudah disetujui DPR sebagai Kapolri dan menunggu pelantikan.

Demikian salah satu temuan survei Lingkaran Survei Indonesia – Denny JA (LSI Denny JA) yang mengadakan survei khusus untuk memotret respon publik terhadap polemik Jokowi dan Kapolri.

"Jokowi diharapkan secepatnya menetapkan Kapolri definitif. Menunda keputusan untuk Kapolri yang definitif dianggap buruk untuk soliditas kepolisian. Itu buruk juga bagi citra ketegasan seorang presiden," kata peneliti LSI-Denny JA, Ardian Sopa dalam konferensi pers di kantor LSI, Rawamangun, Jakarta, Selasa (20/1/2015).

Menurutnya, penundaan ini bagaikan bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak dan berujung pada keadaan yang makin rumit.

"Penetapan pelaksana tugas atau Plt Kapolri ini merupakan cara Jokowi untuk menunda pelantikan calon Kapolri Komjen Pol Budi Gunawan. Tapi ini akan menjadi bom waktu," ujarnya.

Dia mengatakan sejatinya Presiden bisa saja melantik Budi Gunawan sebagai Kapolri, namun dihari yang sama menonaktifkannya karena status tersangka yang disandangnya. Dengan demikian DPR, yang telah menyetujui Budi Gunawan sebagai Kapolri, tidak merasa dikhianati.

"Dengan begitu tidak akan terlalu bermasalah. Memang pelantikannya akan menciderai tradisi kenegaraan tetapi itu kan hanya sekedar menyelesaikan proses pelantikan dan yang penting segera menonaktifkannya," jelasnya.

Selain itu, menurut dia, Jokowi bisa juga melakukan komunikasi dengan Budi Gunawan agar bersedia mengundurkan diri dari posisinya sebagai calon Kapolri tunggal.

Dalam survei ini, mayoritas publik sebesar 69.78% mengharapkan partai koalisi pendukung Jokowi (KIH) tak lagi menekan Jokowi melantik tersangka korupsi Komjen Budi Gunawan menjadi Kapolri.

"Hanya sebesar 23.60% publik berharap Jokowi harus ditekan untuk tetap melantik tersangka korupsi Komjen Budi Gunawan sebagai Kapolri, dan  6.62% publik menyatakan tidak tahu/tidak jawab," lanjutnya.

Harapan ini merata di semua segmen masyarakat. Baik mereka yang tinggal di perkotaan maupun pedesaan, pria maupun wanita, wong cilik maupun kelas ekonomi mapan, mereka yang terpelajar maupun berpendidikan rendah.

Survei ini dilakukan melalui metode quick poll pada tanggal 17-18 Januari 2015. Survei menggunakan metode multistage random sampling dengan 1200 responden dan margin of error kurang lebih 2,9 %. Survei dilaksanakan di 33 propinsi di Indonesia. Survei juga dilengkapi dengan penelitian kualitatif dengan metode analisis media, FGD, dan in depth interview. [hanter]

Popular posts from this blog

Usai Keluarkan Perpres Soal Kenaikan DP Mobil Pejabat, Nah Lho..Jokowi Bingung!

"Plin Plan pakdhe nih," tulis akun @ebritino  di Twitter terkait sikap Jokowi yang sepertinya kebingungan usai keluarkan Perpres No 39/2015. Ada pun Perpres tersebut mengatur soal kenaikan uang muka (DP) kendaraan mobil pejabat dari Rp 116 juta menjadi Rp 210 juta. Sikap 'plin plan' Jokowi ini apa karena ada banyak protes dari publik atau ada faktor lain memang belum ada klarifikasi dari pihak Istana. Yang ada hanyalah Jokowi sebut akan mengecek ulang Perpres No 39/2015 tersebut. Dikutip laman Detik (5/4) , bahwa Presiden Jokowi berjanji akan mengecek Perpres yang berisi kenaikan nilai uang muka pembelian mobil pejabat negara. Selain itu dirinya juga mengakui bahwa kebijakan itu tidak tepat dilakukan saat ini. "Saat ini bukan saat yang baik. Pertama karena kondisi ekonomi, kedua sisi keadilan, ketiga sisi (penghematan) BBM," tutur Jokowi setelah mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, dari kampung halamannya di Solo, Minggu (5/4...

Ironi...Lapindo Di Urus Pemenrintah, ARB Malah Buang-buang Duit

Ironi sekali, ketika masyarakat Sidoarjo menanti penggantian atas tanah mereka yang tertutup lumpur Lapindo, Aburizal Bakrie alias Ical sebagai pemilik malah asyik buang duit untuk rebut kekuasaan di Golkar. "1 bulan lagi 29 Mei genap 8 tahun sudah Lumpur Lapindo mengubur beberapa kecamatan di sidoarjo Jatim. Aburizal Bakrie sang empunya malah kini sedang berasyik masyuk mengutak ngatik pemerintah dan Golkar agar dapat melanggengkan kekuasaannya sebagai ketua umum dengan berbagai cara dilakukan, puluhan bahkan ratusan milyar biaya mengalir untuk melanggengkan kekuasaannya," kata Ketua Lembaga Penyelidikan, Pemantauan dan Pemberantasan Korupsi RI (LP3KRI), Samsul Hidayat di Jakarta, Senin (27/4). Samsul menuturkan, sudah bertahun-tahun penantian masyarakat memperoleh ganti rugi yang tak kunjung selesai. Diera SBY, pemerintah berbaik hati turut mengucurkan miliaran rupiah untuk menanggulangi dampak kerugian dan sosial yang diakibatkan kecerobohan perusahaan tambang dib...

Tak Bela Ahok, Desy Ratnasari: Lebih Baik Sertifikat Diberi Kepada Pelacur Yang Tobat

Anggota Komisi VIII DPR Desy Ratnasari menyatakan tidak menyetujui wacana pemberian sertifikasi kepada pekerja seks komersial (PSK) yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Desy justru menyarankan gagasan tersebut seharusnya diberikan kepada PSK yang mau meninggalkan profesinya tersebut. "Sertifikasi lebih baik diberikan kepada PSK yang mau meninggalkan profesinya tersebut dan mau beralih profesi," kata politikus Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut melalui pesan singkat (SMS) kepada Republika, Selasa (28/4). Menurut dia, pemberian sertifikasi tersebut lebih baik diberikan kepada mantan kupu-kupu malam yang mau melakukan pekerjaan lainnya. Tentunya pekerjaan yang halal dan baik, tidak seperti sebelumnya menjajakan diri. Artis kenamaan Indonesia itu menilai, pemberian sertifikasi kepada mereka yang bertobat lebih bagus dibanding kepada PSK yang masih menjalani pekerjaan tersebut. Hal itu juga mungkin bisa menjadi apresiasi bagi mereka yang bertobat. Pasalnya,...