Skip to main content

Selain Di Laporkan Ke Polisi, Menteri Tedjo Pantas di Gusur dari Kabinet Kerja Jokowi



Tak cukup rasanya emosi rakyat kepada Menteri Tedjo jika hanya di laporkan ke pihak kepolisian karena telah sebut "rakyat tak jelas". Tuntutan Menteri Tedjo di gusur alias di berhentikan dari menteri pun mulai bermunculan.

Laman Rmol melansir, bawha polemik Komisi Pemberantsan Korupsi (KPK) versus Polri merupakan momentum Presiden Joko Widodo untuk membersihkan dan membenahi KPK dan Polri dari oknum-oknum bermasalah.

Demikian disampaikan Koordinator Nasional Jaringan Duta Joko Widodo, Joanes Joko, dalam keterangan beberapa saat lalu (Selasa, 27/1).

"KPK dan Polri merupakan tiang utama institusi penegakan hukum maka tidak pada tempatnya bila permasalahan oknum-oknum justru malah menarik kedua institusi tersebut dalam polemik yang berkepanjangan," tegas Joanes.

Joanes menegaskan, ia juga sangat menyayangkan pernyataan Menkopolhukam Tedjo Edhy, yang menyebut pendukung KPK sebagai rakyat tidak jelas. Sebagai pembantu Presiden, jelas justru Tedjo tidak memahami semangat Nawacita.

"Untuk itu kami mendukung Presiden untuk mempertimbangkan pergantian para aparatur negara dan pembantu-pembantu presiden yang tidak memahami semangat Nawacita dan Trisakti," demikian Joanes.

Seperti di ketahui, menteri Tedjo adalah jatah yang diberikan Jokowi kepada partai NasDem. Dikabarkan selain dapat beberapa jatah menteri, partai yang di ketuai Surya Paloh itu juga dapat jatah posisi ketua Jaksa Agung. Hal ini yang mungkin membuat salah satu kader PDIP kecewa. Ya, politikus yang bernama Effendi Simbolon dalam sebuah kesempatan sampaikan rasa kecewanya, mengapa partai Nasdem banyak dapat kursi. (Baca, Jangan cuma NasDem saja yang dapat kursi ) [rmol/pekanews]

Popular posts from this blog

Usai Keluarkan Perpres Soal Kenaikan DP Mobil Pejabat, Nah Lho..Jokowi Bingung!

"Plin Plan pakdhe nih," tulis akun @ebritino  di Twitter terkait sikap Jokowi yang sepertinya kebingungan usai keluarkan Perpres No 39/2015. Ada pun Perpres tersebut mengatur soal kenaikan uang muka (DP) kendaraan mobil pejabat dari Rp 116 juta menjadi Rp 210 juta. Sikap 'plin plan' Jokowi ini apa karena ada banyak protes dari publik atau ada faktor lain memang belum ada klarifikasi dari pihak Istana. Yang ada hanyalah Jokowi sebut akan mengecek ulang Perpres No 39/2015 tersebut. Dikutip laman Detik (5/4) , bahwa Presiden Jokowi berjanji akan mengecek Perpres yang berisi kenaikan nilai uang muka pembelian mobil pejabat negara. Selain itu dirinya juga mengakui bahwa kebijakan itu tidak tepat dilakukan saat ini. "Saat ini bukan saat yang baik. Pertama karena kondisi ekonomi, kedua sisi keadilan, ketiga sisi (penghematan) BBM," tutur Jokowi setelah mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, dari kampung halamannya di Solo, Minggu (5/4...

Tak Bela Ahok, Desy Ratnasari: Lebih Baik Sertifikat Diberi Kepada Pelacur Yang Tobat

Anggota Komisi VIII DPR Desy Ratnasari menyatakan tidak menyetujui wacana pemberian sertifikasi kepada pekerja seks komersial (PSK) yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Desy justru menyarankan gagasan tersebut seharusnya diberikan kepada PSK yang mau meninggalkan profesinya tersebut. "Sertifikasi lebih baik diberikan kepada PSK yang mau meninggalkan profesinya tersebut dan mau beralih profesi," kata politikus Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut melalui pesan singkat (SMS) kepada Republika, Selasa (28/4). Menurut dia, pemberian sertifikasi tersebut lebih baik diberikan kepada mantan kupu-kupu malam yang mau melakukan pekerjaan lainnya. Tentunya pekerjaan yang halal dan baik, tidak seperti sebelumnya menjajakan diri. Artis kenamaan Indonesia itu menilai, pemberian sertifikasi kepada mereka yang bertobat lebih bagus dibanding kepada PSK yang masih menjalani pekerjaan tersebut. Hal itu juga mungkin bisa menjadi apresiasi bagi mereka yang bertobat. Pasalnya,...

Ironi...Lapindo Di Urus Pemenrintah, ARB Malah Buang-buang Duit

Ironi sekali, ketika masyarakat Sidoarjo menanti penggantian atas tanah mereka yang tertutup lumpur Lapindo, Aburizal Bakrie alias Ical sebagai pemilik malah asyik buang duit untuk rebut kekuasaan di Golkar. "1 bulan lagi 29 Mei genap 8 tahun sudah Lumpur Lapindo mengubur beberapa kecamatan di sidoarjo Jatim. Aburizal Bakrie sang empunya malah kini sedang berasyik masyuk mengutak ngatik pemerintah dan Golkar agar dapat melanggengkan kekuasaannya sebagai ketua umum dengan berbagai cara dilakukan, puluhan bahkan ratusan milyar biaya mengalir untuk melanggengkan kekuasaannya," kata Ketua Lembaga Penyelidikan, Pemantauan dan Pemberantasan Korupsi RI (LP3KRI), Samsul Hidayat di Jakarta, Senin (27/4). Samsul menuturkan, sudah bertahun-tahun penantian masyarakat memperoleh ganti rugi yang tak kunjung selesai. Diera SBY, pemerintah berbaik hati turut mengucurkan miliaran rupiah untuk menanggulangi dampak kerugian dan sosial yang diakibatkan kecerobohan perusahaan tambang dib...